Kisah Pertarungan Ki Demang Kutu Surya Alam Dan Bathara Katong

PONOROGO (kotareyognews.net) - Di wilayah jawa timur bagian selatan, tepatnya didaerah ponorogo (dulu belum diberi nama) zaman dulu tinggalah disana seorang yang sakti mandra guna dengan nama Ki Ageng Kutu Surya Alam , dia memiliki serang anak perempuan bernama Niken Gandini, dan diapun juga memiliki sebuah padepokan dengan nama padepokan Suru kubeng.

Dalam kehidupannya Ki Ageng Kutu Surya Alam dikenal sebagai orang yang baik, dia memiliki dua senjata pamungkas yaitu sebilah keris yang di beri nama Condhong Rawe dan sebilah tombak dengan nama Jabardas yang dijadikannya sebagai sumber utama kekuatannya.

Pada saat itu pula raja dari kerajaan majapahit yang bernama Brawijaya memerintahkan anaknya yang bernama Bathoro Katong untuk menyebarkan agama islam yang dulunya masih beragama Hindu di bagian selatan.Beberepa saat kemudian pengikut dari Bathoro katong semakin banyak, namun pada saat itu Ki Surya Alam menolak ajakan Bathoro Katong untuk masuk islam karena dia teguh dalam menganut agama Hindu.

Akhirnya karena perbedaan pendapat tersebut mereka mulai saling bermusuhan,tapi sebelum permusuhan semakin berlanjut, Bathoro katong berpura pura menyerah kepada Surya alam dan itupun berhasil, Surya alam tak merasa curuiga sedikitpun.

Setelah lama tinggal bersama dengan Surya alam, Bathara Katong telah mengetahui apa kelemahan dari Surya alam yaitu sebilah keris yang dimilikinya, karena Bathoro katong telah lama tinggal dengan Surya alam ,benih benih cinta mulai tumbuh pada Niken gandini, dan akhirnya mereka berdua menikah ,setelah pesta pernikahan selesai ,ditengah malam Bathoro katong menyuruh niken untuk mengambil keris yang dimiliki oleh ayahnya tersebut

Beberapa saat setelah Niken mengambil keris yang dimilki oleh ayahnya tersebut,Bathoro Katong mengatur siasat untuk melakukan penyerangan kepada padepokan suru kubeng.Disaat tengah malam menjelang, pasukan Bathoro katong datang menyerang, dan akhirnya banyak dari pasukan/pegikut Surya alam yang tewas.

Setelah terpojok Surya Alam memilih kabur menuju kearah timur, dan disaat pelarianya dia melihat sebuah pohon besar yang berdiri kokoh, dan denga kesaktian yang dimiliki olehnya dia bersembunyi didalamnya namun hal tersebut diketahui oleh pasukan Batkoro katong dan akhirnya Bathoro katong menyuruh pasukannya untuk membakar pohon tersebut dan akhrnya pohon tersebut hangus tak tersisa sekarang tempat itu diberi nama POH GOSONG .

Surya Alam dengan kesaktian yang dimiliki tetap bisa melarikan diri, dia menuju ke arah utara dan disaat pelariannya dia melihat pohon poh yang basar dan dengan kesaktianya dia bersebunyi didalamnya tapi tetap ketahuan pasukan Bathoro katong dan ahirnya pohon tersebut ditebang namun setelah di tebang pohon tersebut tidak terdapat siapa-siapa dan diketahui Surya Alam telah berlari menuju ke arah selatan dan pada saat itu di sebuah desa terdapat pesta perkawinan dan akhirnya terlihat menuju ke pesta itu untuk bersembunyi.

Akhirnya pasukan Bathro katong mengejarnya ke tempat itu ,saking ramai dan penatnya karena pesta pasukan Bathoro Katong tidak berhasil menangkap Surya Alam. Diapun kembali berlari menuju selatan namun sebelum terlalu jauh pasukan Bathoro katong berhasil menjebaknya (memblancang) dari empat sisi, namun lagi- lagi dia berhasil kabur.

Surya Alam menuju kearah sebuah gunung, dan terus berlari menuju keatas gunung itu dan saat para pasukan mencarinya, dia sudah tidak di temukan, beberapa hari kemudian dari arah mata air yang ada di gunung tersebut tercium aroma bacin, para pasukan dan Bathoro Katong mengira bahwa aroma itu berasa dari bangkai Surya Alam.

Beberapa hari kemudian Bathoro Katong dengan istrinya dan dibantu oleh pasukannya menebang hutan yang ada di daerah itu untuk membentuk sebuah padepokan yang diberi nama Padepokan Ponorogo.(warok)

berbagaisumber