Ruwatan Ponorogo dan Rajahan Kolocokro Digelar di Padepokan Widoro Kandang

PONOROGO (kotareyognews.net) - Dalam rangka ruwatan Bumi Ponorogo dan Rajahan Kolocokro, Yayasan Parapesichologi Semista (YPS) mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Padepokan 'Widoro Kandang' desa Kemiri, Jenangan Ponorogo, Rabu (15/10/2015) malam.

Pada pagelaran Wayang kulit semalam suntuk kali ini, mendatangkan dalang Ki Ipung Purbo Sasongko yang oada oakeliranya membawakan lakon 'Noroyono Winisudho'.

Lakon ini merupakan menggambarkan perjalanan Noroyono, atau Prabu Kresna saat diwisuda menjadi Ratu di Ndwarawati.

"Narayana merupakan manifestasi dari Wisnu. Ideologi Wisnu yakni reksakaning jagad atau penjaga dan pemelihara alam semesta. Jika ada makhluk jahat yang ingin menghancurkan alam semesta dan mengubah tatanan dunia, maka Narayana atau Kresna yang tampil ke depan untuk menghancurkannya,"Terang Ki Purbo Sasongko.

Sementara itu, menurut ketua panitia R. Tcuk Sujarwadi mengatakan bahwa kegiatan pagelaran Wayang Kulit tersebut  diselenggarakan oleh Yayasan Parapsichology Semesta (YPS) dalam rangka Ruwatan Bumi Reyog Ponorogo dan Ruwatan Massal Wisuda Rajahan (Rajah Kolocokro).

"Kegiatan malam ini adalah  pagelaran Wayang Kulit, tadi ada ruwatan semoga lancar apa yang manjadi tujuan bisa dikabulkan. Sedangkan nanti juga diadakan ngrasuk rajah Kolocokro, semoga rajah Kolocokro juga bisa manunggal didalam jiwa raganya, bisa merubah sifat sifatnya," harapnya Sujarwadi.

Lebih lanjut  dia juga menjeleskan bahwa kegiatan seperti ini digelar tiap tahun, diantaranya ruwatan masal, ngrasuk rajah kolocokro. Semua didanai dari iuran peserta dan tahun ini mendapatkan bantuan dari pemerintah karena juga termasuk rangkaian grebeg suro.

"Selain itu kita juga menggelar ritual kungkum 8 dam selama 2 jam, mulai pukul 22.00 - 24.00. Peserta kungkum tadi malam mencapai 50 orang dan kegiatan kungkum tidak hanya dilaksanakan tadi malam tapi berlanjut hingga pelaksanaan Pilkada nanti tujuanya, agar pelaksanan pilkada ponorogo bisa sukses, lancar, aman, guyub rukun, sehingga Ponorogo bisa memilih bupati yang tepat," jlentrehnya.

Sementara itu Romo Dodik Sri Suryadi Ketua YPS, menyampaikan bahwa ruwatan masal merupakan budaya jawa yang ada sejak jaman purba. Namun akibat masuknya budaya asing budaya ini mulai hilang. Maka dari itu YPS merintis agar kebudayaan jawa bisa berkembang. "YPS bukan aliran kepercayaan, bukan agama, dan bukan bertujuan asal - asalan, namun YPS adalah yayasan yang mempelajari budaya jawa agar mengangkat budaya jawa menjadi budaya sendiri bukan budaya asing." tegasnya.

Menurutnya, yang dipelajari adalah budaya lahir, budaya batin, semuanya dan ternyata budaya jawa tetap tak kalah dengan budaya import dimana punya kekuatan spiritual yang sangat tinggi, daya seni yang sangat tinggi sehingga bangsa kita jika mau mempelajarinya, memakai atau menggunakanya sudah tentu akan selamat dunia dan akhirat.

"Sekarang masyarakat kita kebanyakan sudah mulai melupakan akan budaya sendiri, justru malah melecehkan dan tidak mau  menggunakan budaya sendiri. Tetapi malam ini saya merasa kagum karena masih banyak yang masih menyukai budaya sendiri dilihat banyaknya pengunjung yang hadir." ungkapnya.

  Hadir dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Padepokan Widoro Kandang desa Kemiri, Jenangan, Ponorogo Muspika kecamatan Jenangan, tokoh masyarakat, seluruh anggota YPS dan ratusan penggemar wayang kulit. (warok)