Alasan Reyog Ponorogo Dibakar Karena Kondisinya Sudah Termakan Rayap

PONOROGO (kotareyognews.net) - Kemarahan warga Ponorogo tentang kabar penghinaan terhadap kesenian Reyog dengan membakarnya memang menorehkan kebencian kepada oknum KJRI di Davao City, Filipina pada Sabtu, (20 Oktober 2015 silam.
   
Namun kebencian itu sedikit lega setelah mendapatkan klarifikasi oleh  Menteri Luar Negeri (Menlu) Redno LP Marsudi.  Melalui informasi yang dikutip oleh laman viva.co.id Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Davao City, Filipina, menginformasikan bahwa pihaknya membantak isu pembakaran Reyog Ponorogo yang di kaitkan dengan upaya pengusiran berhala atau makhluk halus.
  
Menurut sumber laman tersebut, pihak KJRI menegaskan bantahan yang telah disampaikan melalui siaran pers di lamannya terupdate  Sabtu siang, 31 Oktober 2015.
   
Pihaknya mengakui telah melakukan pemusnahan reyog ponorogo yang merupakan aset yang mereka miliki sejak tahun 1988 pada 20 Oktober 2015 dengan cara membakarnya, alasanya karena dadak reyog tersebut telah rusak simakan rayap.
  
"Pemusnahan dengan cara dibakar terpaksa dilakukan karena reyog Ponorogo sudah dalam kondisi rusak dan dimakan rayap," tulisnya.
   
KJRI menegaskan bahwa pembakaran tersebut sama sekali bukan merupakan upaya KJRI Davao City untuk merusak, menghina, ataupun menghilangkan reyog Ponorogo sebagai aset budaya. Pemusnahan aset tersebut telah dilakukan secara hati-hati dan penuh rasa penghormatan terhadap reyog Ponorogo sebagai aset budaya Indonesia.
 
Terkait isu pemusnahan karena upaya mengusir mahkluk halus, KJRI Davao City juga menegaskan bahwa pembakaran tersebut tidak ada kaitnnya dengan upaya-upaya untuk pengusiran berhala atau mahluk halus.
    
Saat ini KJRI Davao City sendiri saat tengah berkomunikasi dengan pihak-pihak di Indonesia untuk mengupayakan mencari reyog Ponorogo yang baru pengganti yang telah rusak tersebut.
   
Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi sendiri mengatakan bahwa kabar sebuah Reyog Ponorogo yang sengaja dibakar di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Davao, Filipina, itu tidak benar kalau oknum KJRI sengaja dan karena tidak suka Reyog.
   
"Reyog dan hiasan gamelan berupa kepala naga dibakar karena sudah rusak dan dipenuhi dengan rayap karena saking lamanya, sejak tahun 1988," uajar Retno. (warok)