Gara - Gara Bakar Sampah di Hutan, Warga Ponorogo Ini Ikut Terbakar

Warga yang terpanggang api akibat bakar Sampah
PONOROGO (kotareyognews.net) - Sungguh malang nasib yang di alami JD (70) warga RT: 02, RW: 01 dukuh Krajan, desa Tumpak Pelem, kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo. Pasalnya, lantaran ingin membersihkan sampah yang ada di hutan dengan membakarnya, JD (70) harus rela kehilangan nyawanya karena dia ikut terpanggang api yang digunakan bakar sampah.
 
Informasi yang berhasil dihimpun kotareyognews.net, kejadian tragis ini berawal saat JD yang berprofesi sebagai penyadap getah pinus hendak membersihkan sampah yang berserakan ditempatnya nderes yaitu di petak 163 A blok Tanggulasi dengan cara membakar sampah tersebut. Dia tak sadar bahwa membakar sampah ditengah hutan dalam kondisi kemarau dan angin yang berhembus cukup kencang itu sangat beresiko.

Dan benar, karena hembusan angin yang kencang, apipun seketika menjalar ke pohon pinus disekitarnya yang memang sifat dari pohon ini mudah terbakar.
 
Karena panik dengan api yang semakin lama semakin membesar, JD yang berusia 70 tahun ini mencoba memadamkan api. Karena usianya yang cukup tua ini JD merasa kwalahan menghadapi api yang semakin lama semakin menjadi.
 
Sementara itu, Katimin (70) tetangga korban yang kebetulan tak jauh dari lokasi kejadian langsung berusaha membantu JD memadamkan api. Namun rupanya api semakin membesar dan tak bisa ditundukkan oleh kedua orang ini.
 
Satu-persatu pohon punus disekitar kejadian tak luput dari sambaran si jago merah. Asap mengebul membumbung tinggi ke angkasa, bahkan tubuh kedua orang ini sempat tertutup asap saat angin berhembus dari arah berlawanan.
   
Karena merasa kewalahan, dada terasa sesak dan mata pun pedas, Katimin bergegas meninggalkan JD sendirian di tempat kejadian guna mencari bantuan.
 
Tak lama kemudian Katimin datang bersama Soni(42) yang merupakan Polisi Hutan (Polhut) di wolayah RPH Sawo. Namun kedua oran ini mendapati JD sudah tergeletak tak bernyawa lantaran tak bisa menyelamatkan diri dari kobaran api.
 
Kedua saksipun langsung langsung melaporkan kejadian ini kepada pihak krpolisian setempat. Tak lama kemudian warga sekitar dan pihak kepolisian datang ketempat kejadian. Korban langsung di evakwasi untuk dibawa ke puskesmas setempat, namun memang nyawanya sudah tidak tertolong.
 
Ini adalah bentuk kecerobohan, dan penulis menghimbau kepada para pembaca, untuk berhati-hati menyalakan api, khususnya di musim kemarau saat ini. Sudah dua kali kejadian hutan terbakar dan makan korban, sebelumnya di hutan Ngilo-ilo juga terjadi kebakaran serupa dan menewaskan empat orang.
 
Hendaknya ini menjadi pelajaran, sekaligus peringatan bagi kita semua, untuk selalu berhati-hati dan jangan anggap remeh hal yang mungkin sepele karena akibatnya bisa fatal. Mari sayangi diri, sayangi alam kita, sayangi semuanya  demi kenyamanan dan kelangsungan hidup kita bersama. (warok)