Warga Ponorogo Ini Manfaatkan Sumur P2T Mangkrak dengan Tehnologi Listrik

Sumur P2 T Desa Bringinan yang mangkrak 
PONOROGO (kotareyognews.net) - Sumur P2T yang dibangun di desa Bringinan kecamatan Jambon kabupaten Ponorogo tahun 1990 telah dibiarkan mangkrak. Hal itu diakibatkan karena krisis moneter yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 silam.

Tingginya biaya operasional yang tidak sesuai dengan perolehan lahan yg di aliri air dari sumur P2T tak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan petani, sehingga kelompok pengelola rugi dan akhirnya di biarkan mangkrak. Di desa Bringinan sendiri terdapat dua sumur P2 T satu di daerah ngagik dukuh Kedung dan yang satunya di tenggong dukuh Ngasem.

Namun kali ini Kepala desa Bringinan Barno tidak kurang akal dan mencoba mengambil langkah dan solusi untuk memberikan peningkatan kemakmuran warganya yang mayoritas sebagai petani. Dan akhirnya melalui dana Desa sebesar Rp. 20 juta, pihaknya mampu memfungsikan pengairan sawah dan tegalan melalui pemanfaatan sumur P2T yang mangkrak sejak tahun 1990 tersebut.

Dialansir dari situs suarajatimpost.com Kamis (24/12/2015), Kades Barno yang juga memiliki usaha pupuk organic Star Baruno ini mengatakan bahwa memanfaatkan sesuatu yang sudah mangkrak bertahun-tahun menjadi berguna untuk kemakmuran masyarakat Desa Bringinan menjadi tujuan utamanya sebagai Kepala Desa.

“Saya siapkan melalui dana desa sebesar 20 juta, dua bantuan sumur P2T di Desa Bringinan saya fungsikan kembali. Dan ini sangat efektif dan bermanfaat bagi petani untuk pengairan sawah dan tegalan,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, dengan anggaran Rp. 20 juta bisa digunakan untuk menjadikan barang yang tidak fungsi menjadi berfungsi. Seperti sumur bantuan P2T di desa Bringinan yang sudah mangkrak sekitar 20 tahun akibat mahalnya perawatan.

 “Jadi dana yang sudah dianggarkan itu kita belikan spido listrik, pompa sibel kemudian dibuatkan cubung, dan hasil dari tehnologi ini bisa dirasakan. Bisa dilihat hasilnya dua sumur P2T desa Bringinan sekarang sudah bisa difungsikan kembali oleh warga dengan biaya yang seminimal mungkin. Kedepan pengelolaan sumur ini akan kamu serahkan pada petani HIPA desa Bringinan” jelasnya.

Untuk menghidupkan lagi fungsi sumur P2T tersebut lanjut Barno, pihaknya hanya menggunakan sumur pathoknya, dan jaringannya. Karena jaringan yang sudah ada sangat berfungsi untuk mengalirkan air dari sumber P2T tersebut.

"Fungsi dan kegunaan sumur P2T yang kita renovasi ini sangat besar, dan bisa mengaliri lahan sekitar 30 hektar. Ini kami lakukan agar Desa lain juga bisa memanfaatkan sumur P2T untuk difungsikan kembali. Saya yakin bila hal ini dilakukan untuk Ponorogo saja ada ratusan sumur P2T. Kalau di Jatim ada ribuan yang rata-rata semuanya mangkrak, pasti akan sangat membantu petani kita," lanjutnya.

Oleh karena itu, pihaknya memulai pertama memfungsikan kembali sumur P2T demi kemajuan dan kemakmuran para petani di desanya. Sedangkan pengelolaan sumur P2T diserahkan kepada Himpunan Petani Air (HIPA) agar bisa dikelola dengan baik, dan hasilnya akan digunakan untuk membayar tagihan listrik, dan ini lebih ringan dibanding dengan mesin Diesel.

"Warga kami sangat terbantu dan merasa lebih ringan dibandingkan mengambil sendiri air dari disel. Dan seandainya apa yang Saya lakukan ini menyalahi aturan dari P2T Madiun. Saya siap untuk dimintai keterangan dan bertanggung jawab. Karena saya tahu kebanyakan para kepala Desa pada takut karena tidak tahu harus izin kemana. Dan bila hal ini akan dimasalakan pihak P2T Madiun, Saya akan mengembalikan semua sesuai dengan aslinya,” pungkasnya. (waroxs/suarajatimpost)