Keluarga TKW Ponorogo Yang Terancam Hukuman Mati Datangi DPRD

PONOROGO (kotareyognews.net) - Keluarga Rita Krisnawati (27) TKI asal Desa Gabel, Kauman, Ponorogo, Senin (25/01/2016) mendatangi kentor Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Ponorogo.

Kedatangan keluarga Rita ini bersama para aktivis KAMI ( Komunitas Migran Indonesia) di Ponorogo untuk turut menyuarakan keluhan keluarga Rita. Pihaknya merasa anaknya tidak bersalah, karena Rita puri dari Poniyati, dijebak oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Rita sendiri dalam kasusnya harus menghadapi hukuman mati di Malaysia. Ini karena Rita dituduh menyusupkan 4 kilogram sabu-sabu dari Malaysia ke Hongkong ke dalam tasnya pada 2013 lalu. Padahal dia sendiri tidak tahu bahwa dia sedang dititipi temanya.

“Tolong selamatkan anak saya, semoga bisa pulang dan berkumpul bersama kami,” ungkap Poniyati kepada Ketua dan anggota DPRD Ponorogo.

Poniyati sendiri menyatakan bahwa dia sudah mendatangi Dinas Tenaga Kerja dan langsung diteleponkan ke Kemenlu. Kemntrian luar negeri juga menyanggupi untuk memberikan bantuan hukum.

"Kami sedih, sebagai seorang ibu pasti semua merasa sangat sedih mendengar anaknya diancam hukuman mati. Sampai saat ini belum ada kejelasannya tentang nasib anak saya. Rita juga masih minta kiriman uang dan juga pakaian untuk ganti.“terang aktifis KAMI yang mendampingi Ponoyati.

Informasi yang didapat, Rita yang merupakan Menurut anak kedua dari pasangan suami istri Mujiono - Poniyem ini merantau ke Hongkong pada 2013 untuk mencari kerja.

Namun baru tiga bulan bekerja, Rita dipulangkan oleh majikannya. Dan oleh agennya dia ditempatkan di Macau. Karena Rita masih ingin bekerja di sana.

Saat dia berkenalan denan sesama TKW asal NTT Indonesia. Lalu ditawari bisnis pakaian di Hongkong. Untuk menjalankan bisnisnya itu syaratnya Rita harus pulang dulu ke Indonesia.

Oleh temannya itu Rita dibelikan tiket dan diantar ke airport. Entah gimana ceritanya sampai di Malaysia, Rita ditangkap karena kedapatan membawa sabu-sabu 4 kilogram di tas yang disimpan di bagasi pesawat.

Saat ini Rita berada di tahanan Pemerintah Malaysia dan sudah menghadapi sidang ke-22 kali. Saksi yaitu teman yang mengajak rita bisnis pakaian dari NTT itu mengelak bahwa dia menaruh sabu-sabu dalam tas Rita.

Sedangkan dua saksi kunci, yang warga merupakan warga negara India dan Thailand ternyata juga tidak pernah hadir dalam persidangan.

“Jadi Rita itu korban, dijebak. Makanya kami berharap kepada Bapak Presiden, pemerintah Indonesia untuk turun tangan menolong Rita,” harap Siti Ruliah yang diamini oleh Poniyati. (warok)