Asidewi Ponorogo Terbentuk, Wujudkan Desa Wisata di Ponorogo Yang Berdaya Saing

PONOROGO (kotareyognews.net) - Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Jawa Timur Andi Yuwono, M. Si pada Minggu (21/02/2016) telah mengukuhkan pengurus Asidewi Ponorogo. Acara pengukuhan tersebut digelar di panggung utama lokasi obyek wisata telaga Ngebel, Ponorogo.

Dalam acara ini selain pengukuhan juga digelar hiburan orkes melayu, pegelaran atraksi seni Reyog Ponorogo, serta pengukuhan Clup Motor Yamaha NMex Ponorogo, sebagai duta promosi wisata di Kabupaten Ponorogo.

Tampak hadir dan ikut membaur bersama para petinggi Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) se- Kabupaten Ponorogo ini, Dinas Pariwisata Jatim, Handoyo, Dinas Pariwisata Ponorogo Sapto Djatmiko, Ketua Asidewi Jatim Andi Yuwono, M. Si, para pengurus Asidewi Ponorogo, puluhan Wartawan media di Ponorogo, anggota Clup Motor Yamaha NMex dari berbagai wilayah se-Indonesia dan ratusan pengunjung obyek wisata Telaga Ngebel Ponorogo.

Ketua Asidewi Jatim Andi Yuwono mengatakan bahwa Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) merupakan perkumpulan warga Desa dengan Potensi Wisata. Berbicara pariwisata, tentunya semua itu tak lepas dari tiga hal yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta. Itulah tiga hal yang harus dimaksimalkan pola komunikasinya demi terwijudkanya Desa Wisata di suatu daerah lebih maksimal dan lebik menampakkan jati dirinya, sehingga potensi bisata benar-benar dapat dijual.

"Dengan adanya UU No. 6 tahun 2014, desa harus bisa bergeliat, dan desa sudah punya kewenangan untuk menentukan bagaimana citra desa," terangnya.

Menurutnya, dengan Desa Wisata diharapkan desa akan menjadi sebuah desa yang mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan berkepribadian dalam kebudayaan.

"Ini sangat pas dengan wejangan pendiri Bangsa ini Bung Karno yaitu berdaulat dalam Politik, bekepribadian dalam kebudayaan dan berdikari dalam ekonomi. Hari ini adalah saatnya desa untuk menunjukkan kemampuanya dan memaksimalkan potensinya tentunya solusinya dengan desa wisata," paparnya.

Lebih lanjut Andi memaparkan bahwa Ponorogo dengan budaya Reyog merupakan benteng terakhir untuk menghadapi tantangan dunia kedepan yang lebih ekstrim. Dengan adanya MEA yang sudah diberlakukan 2016,  itu artinya desa harus berdaya saing.

Untuk itu desa wisata selain harus memoles prodaknya, juga harus mengembangkan potensinya dan siapa yang akan melakukan desa wisata tersebut agar bisa bersaing di era MEA saat ini.

"Saya sangat berterimakasih, Ponorogo luar biasa, Ponorogo punya potensi untuk kita kemas. Dengan sepirit kearifan lokal mari kita songsong era globalisasi ini menuju desa wisata di Ponorogo yang hebat berdaulat dan mandiri," pungkasnya. (warok)