Jika Pagar Eks Lokalisasi Kedungbanteng Tak Kunjung Dibongkar, Pemerintah Siap Kerahkan Alat Berat

PONOROGO (kotareyognews.net) - Kepala Dinsosnakertrans Ponorogo Sumani saat hearing bersama DPRD Ponorogo terkait eks Lokalisasi Kedungbanteng, Senin (21/03/2016), mengatakan  bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan di Eks Lokalisasi tersebut. Namun diakui pahwa pihaknya sedang kecolongan.

Sumani mangatakan bahwa saat ini praktik prostitusi menggunakan berbagai cara. Dan itu yang dilakukan sejumlah Pekerja Seks Komersil (PSK) yang menggunakan bekas lokalisasi Kedungbanteng.

"Mereka menggunakan sarana komunikasi hand phone atau di tempat lain sebagai ajang transaksi. Dan eks lokalisasi Kedungbanteng hanya sebagai eksekusinya," terang Sumani.

Sejumlah PSK yang menjajakan diri tersebut lanjut Sumani, merupakan pendatang baru dan bukan exs penghuni lokalisasi yang melakukan perjanjian saat penutupan dulu. Tetapi pihaknya belum bisa menentukan berapa jumlah PSK yang melakukan transaksi di eks lokalisasi Kedungbanteng, dan darimana asalnya.

“Kami sedang melakukan pendataan, Jika ada penghuni lama yang nekat kembali dan menjajakan diri di tempat itu, mereka akan langsung kita beri sanksi,’’ tegasnya.

Lebih lanjut Sumani memaparkan bahwa pihaknya telah memerintahkan kepada masyarakat setempat untuk membongkar pagar yang mengelilingi lokasi tersebut. Pihak Dinsosnakertrans sendiri masih menunggu masyarakat sekitar untuk membongkar pagar tersebut hingga akhir bulan ini.

Jika masyarakat tak sanggup atau kekurangan tenaga untuk melakukan pembongkaran pagar atau tak kunjung di bongkar pihaknya siap untuk mengerahkan alat berat untuk melakukan pembongkaran.

Selain itu, dia memghimbau kepada sejumlah penghuni yang masih berada di lokasi untuk segera angkat kaki maksimal hingga April mendatang.

"Termasuk masyarakat sekitar yang tinggal di dalam exs lokalisasi, wajib kembali ke rumah masing-masing," tegasnya.

Sementara, Ketua Komisi D DPRD Ponorogo Ubahil Islam saat mengatakan bahwa tempat eks lokalisasi  Kedungbanteng sangat mungkin kembali difungsikan untuk tempat maksiat lagi. Hal itu dibuktikan dengan penemuan Komisi D saat sidak beberapa hari yang lalu.

"Area tersebut tertutup pagar melingkar cukup tinggi, dan saat sidak beberapa hari lalu juga ditemukan beberapa obat kuat dan bahkan alat kontrasepsi berupa bekas kondom. Pihak DPRD meminta pagar tersebut secepatnya dirobohkan agar para penghuni Eks Lokalisasi Kedungbanteng segera angkat kaki dari tempat tersebut," ucapnya.

Ubahil menegaskan bahawa seluruh penghuni Eks Lokalisasi tersebut akhir April mendatang, sudah meninggalkan lokasi tersebut. Itu bertujuan agar tidak ada pengunjung dengan berbagai alasan mendatangi bekas tempat maksiat tersebut.

“Harapan kita, pada akhir bulan April mendatang tidak ada lagi satupun penghuni di tempat tersebut” jelas Ubahil seperti dikutip di website resmi DPRD Ponorogo.

Jika exs lokalisasi tersebut masih beroperasi, Ubahil mengancam bakal meminta jaringan listrik ke eks lokalisasi tersebut diputus. Hal itu karena lokalisasi Kedungbanteng sudah resmi ditutup pada Juni 2015 lalu oleh Menteri Sosial Khofifah Indarparawangsa. Dan seluruh penghuni serta masyarakat yang terdampak penutupan tersebut telah diberikan kompensasi.

Dalam hearing tersebut pihak DPRD Ponorogo juga menghadirkan beberapa Kepala Satuan Kerja termasuk Kepala Dinsosnakertrans Ponorogo Sumani, Kepala Desa Kedungbanteng Sunaryo, dan perwakilan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). (warok)