Lhadalah, Hasil Unas SLTA Ponorogo Jeblok, Siapa Yang Salah

PONOROGO (kotareyognews.net) - Ujian Nasional (Unas) di tingkat SLTA baru saja dilaksanakan. Ada kabar menggelitik dari hasil UNAS di kota Ponorogo, karena banyak siswa yang tidak bisa mencapai nilai standar. Mungkinkah ini adalah pengaruh dari keputusan Dinas Pendidikan yang menyatakan bahwa Unas bukan penentu kelulusan bagi siswa?

Apakah hal ini berpengaruh pada semangat siswa dalam belajar? Dan apakah dengan keputusan tersebut menjadikan sebab siswa enggan dan malas belajar? Buktinya, hasil Unas SLTA tahun ini semakin banyak siswa yang tidak mampu mencapai nilai standar 55 sesuai yang ditentukan Dinas.

Informasi yang berhasil dihimpun kotareyognews.net, dari sebanyak 8.012 siswa yang masuk daftar nominasi tetap (DNT) Unas tahun ini. Yang belum mampu melampaui nilai standar jumlahnya mencapai ribuan pelajar. Jumlah tersebut naik dibanding tahun sebelumnya.

‘’Yang belum mencapai nilai standar masih banyak. Jumlahnya diperkirakan lebih banyak dibanding tahun lalu,’’ kata Kabid SMA/SMK Dinas Pendidikan Ponorogo Purwo, kemarin (8/5/2016), dilansir dari sebuah situs.

Dia mengaku belum merekap secara keseluruhan hasil Unas. Namun, dia mengaku sudah memeriksa sekilas saat hasilnya sudah ada. Dan jumlah peserta yang belum mampu mencapai nilai standar di atas angka hampir empat ribu siswa.

"Tahun lalu yang memiliki nilai di bawah standar sebanyak 4.341 siswa. Rincianya, 1.121 peserta dari SMA dan 3.220 dari SMK. Jika mengacu jumlah peserta tahun ini, siswa yang belum mencapai nilai standar mencapai 40 persen.

‘’Kebanyakan cuma satu mapel (mata pelajaran). Tapi ada juga yang semua mapel tidak mencapai standar,’’ tambahnya.

Mapel matemetika lanjutnya, masih mendominasi penyumbang terbanyak. Beberapa yang lainnya gagal di bahasa Inggris dan ekonomi. Sedang, untuk peserta dari SMK lebih bervariasi lantaran ada juga yang gagal di mapel kompetensinya.

Pihaknya mengaku belum mendapat data pasti. Sebab, rekap dilaksanakan di masing-masing sekolah. Dan belum semua sekolah menyetorkan data ke dinas pendidikan. Sementara ini pihaknya baru mendapat nilai tertinggi dan terendah.

"Nilai tertinggi IPA diraih Sugiarto Putra Wijaya. Pelajar SMAN 1 Ponorogo itu mendapat nilai 521,5 untuk enam mapel yang diujikan. Mungkin ini karena bukan penentu kelulusan, semangat belajar peserta tidak seperti dua tahun lalu,’’ ujar Purwo.

Aturan main sejumlah perguruan tinggi yang mewajibkan melampaui nilai standar untuk melanjutkan pendidikan di lembaga mereka tampaknya tidak terlalu ditanggapi peserta Unas. Namun bagi mereka yang sudah berencana melanjutkan kuliah baru menilai serius dalam belajar.

Sebaliknya, peserta yang berencana sekedar lulus tidak memedulikan nilai standar Unas. Dia tak menampik sejumlah peserta Unas dari Ponorogo sudah diterima di perguruan tinggi. Mereka yang tidak melampaui nilai standar terancam gagal.

‘’Data riilnya kami belum punya. Tapi kabar yang kami terima banyak yang sudah diterima di universitas ternama di berbagai kota,’’ paparnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Ponorogo Lilik Hermiwi tak menampik sejumlah anak didiknya belum mampu menggapai nilai standar. Bahkan, jumlahnya lebih besar dibanding tahun lalu.

Lilik enggan menyebut angka. Namun, dia menyebut di atas 60 peserta. Rinciannya, seorang belum menggapai nilai standar mapel bahasa Indonesia, 17 mapel bahasa Inggris, dan matematika lebih dari 50 peserta. Padahal, hanya sebelas anak didiknya yang tidak mampu menggapai nilai standar di tahun lalu.

‘’Jumlahnya (yang tidak menggapai nilai standar) memang meningkat. Tapi mayoritas di sekolah kami mampu melampauinya,’’ ungkapnya.

Lilik menampik anak didiknya kurang serius mengikuti Unas lantaran bukan penentu kelulusan. Pihaknya mengaku Unas tetaplah penting. Pun, persiapan sudah lebih dari cukup. Unas juga sebagai bahan evaluasi dan refleksi program pembelajaran di sekolahnya ke depan.(warok)