Selain Reyog, Telat Juga Jadi Budaya di Ponorogo

PONOROGO (kotareyognews.net) - Salah satu budaya Ponorogo yang paling terkenal adalah seni reyog. Selain itu, beberapa tahun ini di Ponorogo juga muncul budaya baru yaitu Telat. 

Budaya ini sebetulnya sudah berkembang beberaoa tahun lalu. Para pejabat PNS di pemerintah Kabupaten Ponorogo setiap jam masuk kantor usai liburan, bisa dupastikan banyak yang telat masuk kantor. Rata - rata alasan mereka masih ada tamu saudara dari jauh atau sibuk urusan keluarga.

Seperti tahun - tahun sebelumnya, Senin (11/07/2016) yang merupakan hari pertama masuk usai libur hari raya Idul Fitri 1437 H, puluhan PNS Ponorogo juga terlihat telat masuk kantor.

"Klu aparat ponoroogo gk heran wong hari biasa urus kk di kec kota peg catatan sipil datang jam 9 kurang dkt gk langsung kerja tp masih ngrumpi dl sm2 pns sy gemes lihatnya," ujar sebuah akun memberi komentar dua buah foto PNS Ponorogo yang telat masuk kantor yang di upload sebuah akun Facebook.

Diketahui, sebuah akun jejaring sosial Facebook mengupload dua buah foto yang menggambarkan beberapa PNS yang berada di pintu gerbang Pemkab dan tidak mendapatkan jalan karena sudah ditutup.

Di dua foto tersebut diberi caption 'Hari pertama banyak PNS terlambat BUPATI TDK MEMBERIKAN SANGSI TAKUT DIBILANG GALAK.....HANYA BERI PERINGATAN'.
Tak hanya itu, sebuah komentar juga mengeluhkan beberapa instansi lainya yang terkesan tidak disiplin dan mengabaikan pelayanan.

"Waktu puasa tambah gemes lagii di dinas pendidiikan lantai 3 jam kerja dah di tentukan jam 7 30 dah msk kerja bkn baru berangkat dari rumah lengkapnya peg dlm satu ruangan jam 9 baru ada semua tlg lah BKD daaerah po diterttibkan," ujar sebuah akun bernama RWiani.

Sementara komentar lain menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa karena sudah menjadi makanan rutin atau kebiasaan dari PNS di Ponorogo.

"Biasa bro mkanan rutin,"ujar Purwan To.

Akun lain, Lumbricus Coffee juga menyatakan bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang tidak benar. Dia berharap kebiasaan nggak bener tersebut agar tidak menjadi kebiasaan atau budaya.

"Jangan nggak bener menjadi kebiasaan, akhirnya nggak bener jadi kebiasaan, jadi tidak merasa salah," ujar Lumbicus. (warok)