2015 Reyog Ponorogo Dibakar Oleh KJRI Davao, Tahun Ini Diundang Tampil di Acara Kadayawan

PONOROGO (kotareyognews.net) - Meskipun para seniman Reyog Ponorogo pernah merasa gerah terhadap orang sendiri, yaitu KJRI berada di Davao City Philipina lantaran pemusnahan Reyog Ponorogo dengan cara dibakar peda, Selasa 20 Oktober 2015 silam. Namun hal itu tak membuat para Warok Ponorogo berlarut dalam emosi betkepanjangan.

Ini dibuktikan dengan datangnya para Warok beserta Reyog Ponorogo memenuhi undangan program promosi dan pementasan Reyog Ponorogo yang diselenggarakan Pemerintah Republik Indonesia cq Kedutaan Besar RI di Manila dan Konsulat Jenderal RI di Davao City Filipina bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI.

Dikabarkan, sebanyak 30 seniman dan pegiat Reyog Ponorogo telah bertolak menuju Filipina. Mereka yang tergabung dalam Duta Seni Reyog Ponorogo Indonesia (RPI) terbang pada Sabtu dini hari (20/8/2016) silam. Mereka akan berada di Philipina dalam program promosi dan pementasan Reyog Ponorogo ini mulai tanggal 20 - 23 Agustus di Davao City, dan tangval 24 - 27 Agustus di Manila.

Menurut ketua Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) Suyatno, tujuan dari program itersebut adalah untuk memperkenalkan dan mempromosikan seni Reyog Ponorogo yang merupakan salah satu warisan seni budaya Indonesia kepada Negara Philipina dan Dunia.

Sedangkan terkait Reyog Ponorogo Indonesia (RPI), dia menjelaskan bahwa itu merupakan seniman dan pegiat kesenian Reyog Ponorogo yang berasal dari Kabupaten Ponorogo Jawa Timur dan Komunitas Reyog Ponorogo (KRP) Jakarta.

Sementara itu, penampilan Reyog Ponorogo pada festival “Kadayawan” ke - 31 yang digelar di kota Davao, Filipina, pada Minggu (21/08/2016), menurut wakol ketua KRP, S. Nojeng delegasi Reyog Ponorogo mampu memukau dan menghipnotis ratusan ribu penonton disana.

Dalam festival Kadayawan yang digelar tiap Bulan Agustus untuk memperingati pesta panen buah dan sayur itu, tanjut S Nojeng, seni Reyog Ponorogo mampu menhipnotis penonton. Ribuan mata tertuju pada Seni Reyog yang mendapatkan nomor urut 6. Meskipun pada tahun 2016 ini diikuti oleh sekitar 80 peserta yang berasal dari berbagai negara.

“Saat temen-temen memainkan reyog dan melintas di rute yang ditentukan, kita menjadi perhatian ratusan ribu penonton yang berada disepanjang dipinggir jalan,”papar S. Nojeng.(warok)