Upacara Di Sawah, Cara Warga Lembah Babadan Ponorogo Peringati HUT RI

PONOROGO (kotareyognews.net) - Sebagai Bangsa yang besar tentu kita harus ingat dengan sejarah. Dan sejarah telah mencatag bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Itulah sebabnya lahirnya Negeri tercinta ini dan setiap tanggal tersebut pasti diadakan upacara bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Seperti yang dilakukan para petani Desa Lembah kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Warga yang didominasi oleh para petai ini memiliki cara unik dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke - 71 ini. Mereka menggelar upacara di areap peaawahan setempat, Rabu (17/08/2016).

Tampak para petani ini sangat antusias, dan sejak pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, mereka sudah berkumpul di lokasi untuk menggelar upacara peringatan HUT ke-71 Kemerdekan RI. Mereka tak berpakaian baru maupun pakai sepatu, namun dalam upacara kali ini mereka hanya memakai pakaian yang sehari - hari digunakan ke sawah.

Yang lebih terkesan, pasukan para petani dalam upacara bendera peringatan HUT RI ini juga dibagi - bagi sesuai tugas dan peran mereka falam menggarap sawah dan bercocok tanam, ada yang bertindak sebagai Pasukan Garap, Tanam, Pengendali Hama, Pupuk dan Panen.

"Ada sekitar 300 personil petani yang terlibat dalam upacara ini, hanya seorang peserta yang bukan petani, yakni inspektur upacara. Karena petani kurang bisa kalau menjadi Inspektur upacara. Kita memberikan kehormatan pada Danramil 0802/03 Babadan, Kapten Inf. Fayakun Waseso sebagai Inspektur upacara," terang ketua Panitia HUT RI Desa Lembah Endang Widayati.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dalam mempersiapkan upacara di area pesawahan oleh para petani kali ini sudah beberapa hari yang lalu. Banyaknya para petani yang sudah berusia lebih dari 30 tahun, membuat panitia harus lebih ekstra melatih para petani.

"Kita mendapat pelatihan tata upacara dari Koramil 0802/03 Babadan agar pelaksanaan lancar, dan buktinya kegiatan berjalan sukses. Kegiatan ini sebagai perwujudan nasionalisme para petani setempat, sekaligus sebagai momentum kebangkitan petani dalam mengisi kemerdekaan demi mencapai kesejahteraan," pungkasnya.(warok)