Warga Korban Tanah Retak Ponorogo Harus Pindah

PONOROGO (kotareyognews.net) - Bencana alam tanah retak yang terjadi di Ponorogo tampaknya harus disikapi dengan serius. Pasalnya,  tanah retak yang terjadi di desa Tugurejo kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo tersebut diprediksikan masih terus bergerak. Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral yang telah melakukan penelitian di lokasi  menghimbau agar warga yang terdampak tanah gerak untuk direlokasi.

"Daerah tanah gerak ini akan terus bergerak, sehingga kurang layak sebagai tempat tinggal karena membahayakan. Kalau dibuat rumah panggung atau rumah kayu hanya sementara saja. Untuk itu warga harus direlokasi ke tempat yang aman," kata Ketua Tim PVMBG, Herry Purnomo, Selasa ( 10/1/2017) seperti dikutip di situs berita kompas.com.

Menurut Herry, untuk merelokasi warga yang terdampak tanah gerak diperlukan lahan dan dana yang cukup besar. Sementara itu saat ini lahan penggantinya juga belum ada. Untuk itu bila terjadi hujan deras maka warga yang bermukim di daerah rawan bencana tanah gerak diungsikan terlebih dahulu ke tempat yang aman.

"Tadi kami sosialisasikan kalau hujan warga harus tinggalkan rumah. Selain itu kalau ada retakan harus segera ditutup dengan tanah liat yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk pada rekahan-rekahan tersebut," ujarnya.

Dia menambahkan, lahan yang menjadi sawah harus dikeringkan. Selanjutnya ditanami palawija atau tanaman keras. Pasalnya sawah menjenuhkan tanah karena terus berair.

Tak hanya itu, warga harus membuat saluran pengelak agar air yang menggenang bisa dibuang dengan pipa agar tak masuk ke dalam tanah.

"Sementara rumah yang rusak diperbaiki dulu. Nanti kalau pindah harus bangun rumah panggung kayu, tidak boleh lagi rumah tembok," katanya.

Dikatakan Hery, penyebab tanah gerak di Ponorogo, Herry menjelaskan tanah gerak terjadi karena sifat fisik tanahnya mengalami pelapukan dengan batuannya. Tak hanya itu, batuannya banyak terpengaruh patahan sehingga pecah-pecah.

"Sehingga kalau kena hujan maka batunya akan hancur dan membuat runtuh," kata Herry.

Diketahui, selama tiga hari, Sabtu ( 8/1/2017) hingga Senin ( 10/1/2017), Herry bersama dua rekannya, Nama Rukmana dan Anas Luthfi melakukan penelitian dan  mengamati titik-titik di Kabupaten Ponorogo yang diterjang musibah tanah gerak.

Titik yang dikunjungi tim yakni di Sawoo, Sriti, Tempuran, Talun dan Tugurejo. Pihaknya menyatakan siap membantu memeriksa lokasi-lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat relokasi warga nantinya. Dengan demikian, warga tidak perlu was-was lagi terhadap bencana tanah gerak. (warok)


Sumber: Kompas.com