Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni Dikabarkan Masuk Stok Bakal Cawagub Jatim

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni
PONOROGO (kotareyognews.net) - Kalau stok bakal calon gubernur (Cagub) Jatim hanya ada 4 tokoh: Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), bagaimana dengan stok bakal calon wakil gubernur (Cawagub) Jatim pada Pilgub 2018 nanti?

Ada sejumlah tokoh yang disebut-sebut layak disorongkan sebagai bakal cawagub. Siapa saja mereka? Mantan Kapolda Jatim Irjen Pol Purn Anton Setiadji, anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Hasan Aminuddin, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Bupati Bojonegoro Suyoto, mantan Bupati Lamongan sekaligus Ketua PAN Jatim HM Masfuk, dan lainnya.

Realitas tersebut dikatakan pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, M Asfar kepada beritajatim.com di Surabaya, Senin (30/1/2017) kemarin. "Ya setidaknya nama-nama itu dibicarakan di tingkat elite partai di Jakarta," kata Asfar.

Kenapa mesti elite parpol di Jakarta (DPP)? Sebab, surat rekomendasi pencalonan seorang tokoh sebagai cagub dan atau cawagub diputuskan dan dikeluarkan DPP masing-masing partai yang memiliki kursi di DPRD Jatim. Sejumlah nama bakal cawagub di atas merupakan orang partai, sehingga memiliki garis struktural dengan partai yang dinaunginya. Terkecuali untuk figur Irjen Pol Purn Anton Setiadji, mantan Kapolda Jatim asal Kabupaten Jember ini, bukan anggota di partai manapun.

Asfar mengingatkan bahwa proses politik penentuan cagub-cawagub Jatim di Pilgub 2018 nanti tak mungkin dilepaskan dari konteks politik nasional secara keseluruhan dan agenda Pileg serta Pilpres 2019. Dalam konteks tertentu, tambahnya, ranah politik Jatim jauh lebih strategis dibanding DKI Jakarta. Misalnya, dalam perspektif jumlah konstituen, nilai keragaman potensi sosial ekonomi, dan Jatim merupakan hub ke kawasan lain di Indonesia bagian timur. "Jatim sangat strategis bagi parpol manapun," tambahnya.

"Nama Bupati Trenggalek Emil Dardak tak pernah dibicarakan di tingkat elite di Jakarta," ungkap Asfar. Karena Emil Dardak dijagokan sebagai Bupati Trenggalek dari banyak parpol, maka semua parpol merasa memiliki yang bersangkutan, kendati Emil bukan merupakan kader parpol tertentu.

Karena itu, menurut Asfar, bukan hal mengejutkan kini sejumlah tokoh bakal cawagub Jatim tersebut mulai tebar pesona, dengan memasang banyak media peraga di ruang terbuka. Mereka juga tak jarang menggelar sejumlah kegiatan menyapa pemilih di level akar rumput. Mereka makin rajin menyuarakan agenda publik tertentu melalui media massa.

Misalnya, media peraga Hasan Aminuddin banyak tersebar di kawasan Mataraman, seperti di Kabupaten Nganjuk, Kota/Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Pacitan, selain di kawasan Tapal Kuda Jatim, yang selama ini dipandang sebagai kawasan tradisional bagi Hasan Aminuddin. Bahkan, mantan Bupati Probolinggo dua periode ini billboardnya terpampang besar di depan Alun-alun Kabupaten Pacitan.

Asfar mengutarakan, dalam perspektif Pileg dan Pilpres 2019, teritori Jatim lebih strategis dibanding DKI Jakarta. Kuantitas konstituen Jatim yang jauh lebih besar dibanding DKI Jakarta, yakni 7 juta pemilih di DKI Jakarta berbanding sekitar 32 juta pemilih di Jatim, merupakan faktor penarik bagi elite DPP parpol manapun di Jakarta, tak memalingkan perhatiannya terhadap Jatim.

"Elite parpol di tingkat Jatim memang ikut memproses pencalonan ini, tapi mereka bukan pengambil kebijakan finalnya. Policy finalnya ada di DPP parpol di Jakarta. Ada banyak faktor yang mesti dipertimbangkan, termasuk kecenderungan ekspektasi dan kepentingan politik elite rezim politik yang sedang berkuasa. Ini jadi faktor penting seperti di Pilgub DKI Jakarta 2017 ini," jelas Asfar.(warok)